Ratusan Rumah di Solo Kebanjiran



Ratusan rumah di tiga kecamatan di Kota Solo, Jawa Tengah, kembali terendam banjir. Berdasarkan pantauan Metro TV, Ahad (9/3), ketinggian air lebih dari satu meter. Ratusan warga mengungsi seraya menyelamatkan barang-barang berharga mereka.

Menurut warga bernama Sartin, meski hujan sudah berhenti, genangan air akibat luapan Sungai Bengawan Solo semakin meninggi. Dia menambahkan dalam dua bulan terjadi lebih dari lima kali banjir. Sartin dan warga lainnya pun khawatir akan terjadi banjir bandang seperti Desember silam. Sebab, aliran air yang masuk ke dalam rumah sangatlah deras.

Berdasarkan data sementara dari Pemerintah Kota Solo, banjir kali ini setidaknya merendam ratusan rumah di tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Pasar Kliwon, Jebres dan Joyontakan.

Bah juga merendam Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ratusan rumah di Desa Kadokan, Kecamatan Grogol, tergenang. Warga harus dievakuasi karena air terus meninggi. Pantauan Metro TV, hingga kini ketinggian air berkisar mulai dari 10 sentimeter hingga lebih dari satu meter.

Bencana ini terjadi setelah hujan mengguyur sejak Ahad siang. Akibatnya, air Bengawan Solo terus naik hingga meluap ke rumah warga. Kenaikan air terbilang cepat. Dalam satu jam, puluhan rumah terendam. Hingga kini tim Search and Rescue Kabupaten Sukoharjo masih terus bersiaga menyelamatkan warga jika genangan terus meninggi.

sumber: metro tv news .com

Solo banjir lagi

Sejumlah wilayah di Kota Solo kembali dilanda banjir akibat hujan deras yang mengguyur sepanjang Minggu (9/3) sore hingga Senin (10/3) dinihari.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun Espos, beberapa daerah yang dilanda banjir antara lain di Kelurahan Sewu, Jagalan, Sangkrah dan Joyotakan. Hingga berita ini diturunkan pukul 00.30 WIB, sebagian warga di daerah tersebut juga telah mulai mengungsi akibat genangan air yang semakin tinggi.
Wakil Walikota Solo, Hadi Rudyatmo, kepada Espos saat meninjau lokasi-lokasi tersebut, semalam, menjelaskan di Jagalan setidaknya ada tiga RW yang rumah mereka mulai tergenang. Sedangkan di Sewu warga di sekitar pintu air Putat sudah tergenang air.
”Lokasi-lokasi tersebut merupakan daerah yang kerap dilanda banjir. Hujan deras yang juga terjadi di Wonogiri membuat elevasi Sungai Bengawan Solo kembali naik. Begitu juga kiriman dari anak Sungai Bengawan Solo,” kata Wawali. Rudy menyatakan masyarakat sudah menyiapkan tenda-tenda pengungsian untuk mengantisipasi jika muka air kian meninggi.
Sementara itu staf Kelurahan Joyotakan, Serengan, Radya Temon, ketika dihubungi menyatakan tiga RW sudah tergenang air, yakni di RW VI, RW V dan RW III. Ketinggian air di daerah itu rata-rata setengah meter. ”Sejauh ini warga belum ada yang mengungsi, tapi mereka tetap waspada,” kata Radya. Dia juga menjelaskan Lurah Joyotakan, Chairul Anwar, telah memantau langsung situasi lapangan, sementara pihak kelurahan menyiapkan langkah antisipasi jika air kian tinggi.

Siapkan tenda
Salah seorang pengurus PMI Solo, Sumartono Hadinoto, menyatakan beberapa lokasi di Kelurahan Sewu sudah tergenang. Menurut dia, Jl Gotong Royong di Kampung Wonosaren Jagalan terputus akibat tergenang air. Selain itu, genangan juga terjadi di Beton, daerah Putat dan Sewu. ”Kenaikan muka air cepat sekali. Kita berharap agar tidak semakin tinggi,” ujar Sumartono yang juga meninjau langsung lapangan, Senin dinihari.
Dia menambahkan pihaknya sudah menyiapkan tenda-tenda untuk pengungsian sebagai langkah antisipasi, sebab beberapa warga juga sudah ada yang mengungsi karena khawatir air semakin tinggi.
Sumartono memperkirakan banjir yang terjadi di sejumlah daerah di Kota Solo akibat tingginya curah hujan yang terjadi di sejumlah wilayah, seperti Klaten dan Wonogiri yang memasok debit air ke Sungai Bengawan Solo.
Lurah Jagalan, Urip Jatmiko, menjelaskan arus lalu lintas di sepanjang Jalan Juanda mengalami kemacetan total, sebab tinggi air telah mencapai kurang lebih satu meter. Kondisi yang sama juga di Jalan Gotong Royong. Hingga berita ini diturunkan pukul 01.00 WIB, masyarakat Jagalan korban banjir masih memanfaatkan daerah tinggi sekitar yang belum tergenang air. ”Banjir sekitar satu meter mulai terlihat sekitar pukul 21.30 WIB. Namun masyarakat masih belum diungsikan. Kami berharap hujan banjir tidak akan semakin meninggi, sehingga masing-masing penduduk dapat kembali ke rumah mereka,” ungkapnya.
Terpisah, Lurah Sangkrah, Mahendra Nugrahadi, menjelaskan warga di empat RW sudah tergenang air, yakni di RW X, XI, XII dan XIII. ”Ketinggian air bervariasi. Para warga juga sudah mulai mengungsi di tanggul,” kata dia, seraya menambahkan air mulai naik sekitar 00.00 WIB.
Sementara itu hujan deras juga menyebabkan arus lalu lintas di jalur Solo-Sragen mengalami kemacetan. Pasalnya, Sungai Grompol yang berada di perbatasan Karanganyar-Sragen kembali meluap. Berdasarkan pantauan, kendaraan harus berjalan merayap karena ketinggian air antara 30 hingga 50 sentimeter. Beberapa kendaraan roda dua juga macet lantaran nekat menerobos banjir.

sumber: solo pos .co .id

Menteri PU: Tanggul Roboh Karena Dikerjakan Asal-asalan



Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meminta semua kepala daerah di Jawa Tengah membuat daftar hitam para kontraktor yang asal-asalan dalam pembangunan proyek. Hal itu disampaikan Djoko setelah meninjau tanggul penahan banjir yang hancur akibat banjir di Solo, Jawa Tengah, Kamis (10/1).

Menurut Djoko, hancurnya beberapa tanggul penahan banjir di Jateng diakibatkan rendahnya kualitas tanggul tersebut. Dengan temuan tersebut, Djoko mengimbau para kepala daerah untuk berhati-hati memilih kontraktor dalam pembangunan di wilayah masing-masing.

Menteri PU juga berjanji akan mengembalikan fungsi awal Bengawan Solo dengan pengerukan sedimentasi, pembangunan tanggul-tanggul sepanjang 110 kilometer serta relokasi warga di bantaran sungai.

Sementara itu, Wali Kota Solo Joko Widodo mengatakan, kualitas tanggul yang buruk hanya terdapat di Kampung Joyontakan karena adanya penyelewengan dana proyek tersebut. Namun, kasus tersebut sudah diproses secara hukum.

sumber: metro tv news .com

Banjir ancam hingga 20 tahun mendatang

Lahan daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo kritis menyusul makin tingginya angka penebangan hutan di wilayah hulu DAS Bengawan Solo tersebut.
Akibatnya, bencana banjir masih terus mengancam wilayah Soloraya hingga 20 tahun mendatang. Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH) Rachmat Witoelar mengatakan secara umum DAS di Indonesia saat ini mengalami kerusakan lahan yang cukup serius, termasuk DAS Bengawan Solo.
Menneg LH bersama Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Wawali Solo, beserta pejabat Pemkot lainnya, Kamis (10/1), meninjau Bengawan Solo. Menggunakan tiga perahu karet, mereka menyusuri Sungai Bengawan Solo, dari Jembatan Bacem, Sukoharjo hingga jembatan Jurug.
Saat jumpa pers di salah satu rumah makan di Solo, Rachmat menjelaskan kritisnya DAS Bengawan Solo diakibatkan lahan untuk luapan air sungai digunakan untuk sawah dan permukiman.
Untuk pemulihan DAS itu, diperlukan waktu antara 15 tahun hingga 20 tahun lagi. Sehingga bahaya banjir masih akan terus mengancam wilayah DAS Bengawan Solo. Berdasarkan pantauan kondisi di lapangan, tingkat sedimentasi baik Sungai Bengawan Solo dan Waduk Gajah Mungkur (WGM) cukup tinggi.
”Kalau masalah ini tidak segera diatasi akan timbul masalah yang lebih besar. Jangka pendeknya yang dilakukan penertiban bangunan di bantaran sungai dan pengerukan sedimentasi,” terang dia.
Kerugian
Terpisah, Plt Kepala Badan Informasi Komunikasi dan Kehumasan (BIKK) Pemprov Jateng, Urip Sihabudin, menyatakan kerugian akibat bencana banjir di 20 kabupaten/kota di Jateng mencapai Rp 760,80 miliar.
”Banjir telah menyebabkan kerusakan sarana tempat ibadah, sekolah, kesehatan, rumah warga, infrastruktur, dan fasilitas lainnya,” katanya, Rabu (9/1), di Semarang.
Sementara Gubernur Ali Mufiz menyatakan kerusakan infrastruktur seperti jalan dan waduk akibat banjir nilainya senilai Rp 225 miliar.Gubernur menambahkan selain merusak infrastruktur, banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk, bangunan gedung sekolah, kelurahan, kecamatan sampai areal sawah.
Total luas sawah yang rusak berat, ringan dan sedang akibat banjir bandang mencapai kurang lebih 36.000 ha.
Sementara itu, Pemkab Sragen meminta bantuan dana senilai Rp 234 miliar kepada pemerintah pusat guna pemulihan dan penanganan bencana banjir yang menerjang Bumi Sukowati.
Bupati Sragen, Untung Wiyono, di Gedung Dewan, Rabu, mengatakan permintaan bantuan diajukan ke departemen terkait seperti Departemen Sosial, Departemen Pertanian, Departemen Pekerjaan Umum, serta Menko Kesra.
”Nominal dana yang kami mintakan kepada pusat setara dengan angka kerugian materiil akibat banjir yang mencapai Rp 234 miliar. Permintaan bantuan kami ajukan ke departemen-departemen yang masing-masing mempunyai kebijakan atau mekanisme sendiri dalam merespons permintaan itu,” ujarnya.
”Kami juga akan ajukan bantuan untuk industri kecil lokal yang terkena dampak banjir. Pusat telah komit membantu daerah, namun teknis dan nominalnya saya belum tahu persis.”
Kabag Humas Pemkab Sragen, Poedarwanto, menguraikan kerugian materi akibat banjir dari infrastruktur umum senilai Rp 166.885.500.000, peternakan Rp 2.225.160.000, sektor prasarana pendidikan Rp 3.236.500.000, sarana-prasarana kesehatan Rp 179.500.000, serta infrastruktur pertanian Rp 45.106.800.000.
”Angka itu belum final, setiap saat bisa bertambah,” tegasnya.

sumber: solo pos .co .id

Bantuan perbaikan tak kunjung datang - Mereka dirikan rumah dari puing bangunan

Sebelas hari sudah Keluarga Jono, warga RT 1/RW I, Kelurahan Sewu, tinggal di tanggul kampung itu. Pilihan pahit terpaksa mereka ambil lantaran rumahnya yang hanya berdinding anyaman bambu dan tempelan kayu itu terhanyut diseret banjir 26 Desember 2007 lalu.
Sejak itulah, Jono bersama isteri dan ketiga puteranya harus rela tinggal di tanggul dengan atap terpal tanpa dinding.
Kini, Jono dan keluarganya telah turun dari tanggul. Sejumlah barang-barang perabotnya yang selamat dari banjir pun mereka angkut kembali ke rumahnya. Rupanya, rumah Jono yang dulu tinggal puing-puing itu telah tegak kembali, meski tetap berdinding anyaman bambu seadanya. ”Sejak Senin (7/1) pagi, kami turun dari tanggul dan menempati rumah ini, meski sebenarnya Pak Lurah melarang kami menempati rumah ini,” ujar putera Jono, Ahmad, saat ditemui Espos di kediamannya, Senin (7/1) sore.
Petang harinya, sebenarnya keluarga Jono sudah bisa tidur nyenyak di rumahnya yang telah diperbaiki sebagian itu. Namun tanpa disangka, hujan bercampur angin kencang yang terjadi Senin (7/1) siang, rupanya menyapu sebagian genteng-genteng rumahnya. Apa daya, malam itu keluarga Jono akhirnya dicekam perasaan waswas, jika sewaktu-waktu hujan mengguyur di malam hari.

Ahmad mengisahkan sejak banjir tak lagi naik ke permukiman warga, dirinya bersama ayahnya mencoba mengumpulkan puing-puing bangunan rumahnya yang masih tersisa. Di antaranya anyaman bambu, tiang bambu, serta genteng-genteng. Selama beberapa hari itu, Ahmad dan Jono begitu gigih menegakkan kembali rumahnya yang terempas banjir. Meski sebagian telah berdiri, namun rumah itu tak bisa tegak semuanya. Karena fondasi bagian belakang rumahnya telah amblas. ”Hanya ruang tengah yang masih ada fondasinya. Jadi kami pasang lagi tiang bambunya dan kami pasang sisa-sisa gedhek ini seadanya,” tuturnya.
Para tetangga Jono yang rumahnya juga mengalami rusak parah antara lain rumah keluarga Harianto, Sularso, Sunarno serta Suranto. Bedanya, para tetangga Jono lebih dulu menempati rumah mereka ketimbang keluarga Jono.

sumber: solo pos .co .id

BSP salurkan bantuan

PT Bakrie Sumatera Plantations (BSP) menyalurkan bantuan sembako untuk 1.000 kepala keluarga (KK) di Posko-Posko pengungsian wilayah Solo, Karangnyar dan Sukoharjo, Kamis (10/1).
Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) BSP Grup Suwandi mengatakan kegiatan penyaluran bantuan bencana adalah salah satu wujud kepedulian kelompok usaha Bakrie kepada korban banjir dan bencana longsor di wilayah Soloraya. ”Bantuan bencana ini akan terus berlanjut untuk meringankan beban dan penderitaan korban bencana. Penyaluran bantuan ini telah menjadi komitmen perusahaan dengan menyisihkan dana kegiatan 1,5% dari laba bersih perusahaan tiap tahun,” kata dia kepada wartawan di sela-sela penyaluran bantuan di wilayah Joyotakan, Kamis (10/1)

sumber: solo pos .co .id

Bang Yos bantu korban banjir

Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso atau akrab dipanggil Bang Yos bersama puluhan simpatisannya mendatangi wilayah-wilayah banjir di Solo dan bencana longsor di Karanganyar, Kamis (10/1).
Di Pintu Air Demangan Sangkrah, Bang Yos membagikan kalender dan bingkisan kepada warga di bantaran sungai di wilayah Sangkrah. Dari Demangan Sangkrah, Bang Yos melanjutkan perjalanan ke Desa Mogol dan Desa Tengklik Kabupaten Karanganyar.
Tim sukses Yos Center Jateng Edi Subiyanto menepis anggapan bahwa kedatangan Bang Yos kali ini untuk tebar pesona atau kampanye menjelang Pilpres 2009. ”Kalau sekarang ini dikatakan tebar pesona tidak benar atau kampanye tidak benar. Terserah penilaian orang,” tepisnya. Di Joyotakan, Serengan, dibagikan 300 paket seragam, peralatan sekolah serta pakaian dalam anak-anak untuk siswa.

sumber: solo pos .co .id

Pemkot Solo dan TNI Gelar Pengobatan Massal Korban Banjir

Pemerintah Kota Solo dan TNI Angkatan Darat menggelar pengobatan massal gratis untuk ribuan korban banjir di Solo dan sekitarnya, Senin (7/1) kemarin. Pengobatan massal dilakukan untuk meringankan nasib korban banjir, yang mulai dijangkiti penyakit pasca banjir yang melanda wilayah mereka.

Pengobatan massal ini dilakukan oleh Komando Distrik Militer 07 Surakarta, bekerjasama dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), serta pemerintah Kota Solo. Ribuan warga mendatangi lokasi pengobatan massal yang digelar di Balai Kota Solo.

Pemeriksaan meliputi perawatan kesehatan dan operasi ringan, serta pemeriksaan mata dan gigi. Lebih dari seratus tenaga dokter dilibatkan bersama ratusan tenaga medis lainnya dalam pengobatan massal ini.

sumber: metro tv news .com

Mereka terpaksa bertahan hidup di rumah reyot

Sebagai orang kecil, yang namanya bantuan tetap saja diharapkan. Rumah ambruk begini ya tentu saja saya berharap ada bantuan turun,” ujar warga RT 02/ RT I Kelurahan Sewu Jebres Siti Yuliah saat ditemui Espos di rumahnya, Senin (7/1).
Meskipun rumah yang ambruk itu hanya berdinding kayu, namun bagi Siti, rumah merupakan harta berharga bagi keluarganya. Rumah tempat berlindung dari derasnya hujan dan panasnya sinar matahari.

Menurut dia, rumahnya itu ambruk rata dengan tanah bersamaan dengan datangnya banjir Rabu (26/12) pagi. Beruntung, saat ambruk, di dalam rumah itu tak ada orang di dalamnya.
”Sampai saat ini belum ada orang yang mendata rumah rusak ke daerah ini. Rumah saya ini ada sertifikatnya, jadi sah. Semoga saja ada bantuan buat memperbaiki rumah saya,” kata dia.
Senada, warga RT 01/ RW I Kelurahan Sewu Srijono juga berharap Pemkot Solo memberikan bantuan kepadanya. Sebab, saat ini separuh bangunan rumahnya yang berada persis di sisi barat Sungai Bengawan Solo itu, ambruk. Praktis, kini tinggal separuhnya saja yang bisa dimanfaatkan untuk berlindung.

Meskipun kondisi rumahnya kini sudah miring, kata dia, dia dan keluarganya tetap nekat menempatinya lantaran tak memiliki rumah lain. Sehingga dia tak memiliki pilihan kecuali untuk tetap bertahan di dalam rumah reyot berdinding kayu itu.
”Saya hanya berharap ada bantuan dari Pemkot. Sebenarnya rumah saya ini dapat bantuan Rumah Tak Layak Huni (RTLH-red), tapi materialnya keburu hanyut ke bawa banjir,” katanya sembari menerangkan dia menyewa tanah untuk dipakai untuk membangun rumah.
Dia mengatakan, hingga saat ini belum ada pihak yang mendata bangunan yang akan diberi bantuan. Dirinya hanya didata untuk keperluan relokasi rumah.

sumber: solo pos .co .id

Lima Kecamatan di Pati Masih Terendam



Sudah dua pekan banjir menggenangi rumah penduduk di lima kecamatan di Pati, Jawa Tengah. Bahkan, hingga Selasa (8/1) malam, ketinggian air di belasan desa, terutama yang berada dekat aliran Sungai Juwana belum surut secara berarti. Akibatnya ratusan orang yang mengungsi di tenda darurat di lokasi bekas stasiun kereta api mulai diserang penyakit.

Seorang di antara pengungsi yang sakit adalah Sukandar. Ia menderita sakit tulang dan lumpuh. Kakek yang sudah renta ini baru dievakuasi setelah tim penanggulangan banjir yang dipimpin Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz mendatangi lokasi pengungsian warga. Padahal, sudah dua pekan Sukandar bersama seratus lebih warga bertahan di pengungsian tanpa mendapat pengobatan berarti. Sukandar kemudian langsung dibawa ke rumah sakit untuk dirawat intensif. Ini mengingat kondisi kesehatannya cukup parah.

Di Pandeglang, Banten, air bah yang merendam Kecamatan Patia dan Pagelaran, Selasa siang, berangsur surut. Ketinggian air saat ini tinggal setengah meter. Namun, warga mengkhawatirkan banjir susulan. Kekhawatiran warga memang beralasan lantaran kondisi air Sungai Ciliman dan Cilemer yang sebelumnya meluap kembali meninggi seiring hujan masih terus turun. Adapun akses jalan antardesa di dua kecamatan yang semula sempat terputus, sekarang sudah dapat dilewati.

Banjir yang melanda Pandeglang ini seharusnya sudah bisa diatasi sejak tahun 2001. Sebab, bantuan penanganan banjir dari pemerintah pusat cukup besar, terutama untuk pembuatan sodetan dan tanggul di sepanjang Sungai Ciliman dan Cilemer. Kendati dana terus mengalir, banjir tetap saja melanda kawasan tersebut.

sumber: liputan 6 .com

Hujan angin, rumah warga hancur tertimpa pohon

Hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Karanganyar, Senin (7/1) menyebabkan sebagian bangunan rumah milik Wagimin, 50, warga Cangakan, Kecamatan Karanganyar, hancur lantaran tertimpa pohon tumbang.

Beruntung isteri dan seorang anaknya bisa menyelamatkan diri dalam kejadian tersebut.
Namun demikian, akibat peristiwa itu, Wagimin dan keluarganya menderita kerugian lebih kurang senilai Rp 10 juta, karena bagian belakang rumah warga Manggung RT IV/RW VIII ini hancur tertimpa pohon trembesi yang berada di pekarangan rumah. Menurut keterangan Camat Karanganyar, Tri Widodo, pihak Pemerintah Kecamatan Karanganyar telah mendata kerusakan akibat peristiwa tersebut. ”Peristiwa ini sudah kami data dan kami laporkan serta usulkan ke Pemerintah Kabupaten untuk mendapat bantuan. Untuk sementara ini, pemerintah memberi bantuan untuk warga yang bergotong-royong membersihkan reruntuhan,” ujarnya ketika ditemui Espos di lokasi, Selasa (8/1).
Sementara Kepala Kantor Kesbanglinmas Karanganyar, Suharno, melalui Kasi Kesiagaan dan Penanggulangan, AP Heru Kristianto, mengatakan hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Karanganyar, Senin (7/1), menyebabkan sejumlah pohon tumbang. Dan salah satunya menimpa rumah Wagimin yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi becak.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah saat terjadi hujan deras, apalagi disertai angin kencang. Terlebih curah hujan yang mengguyur Karanganyar tergolong tinggi sejak beberapa bulan terakhir. Apalagi menjelang akhir tahun 2007, bencana alam berupa banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Karanganyar. ”Warga hendaknya tetap waspada pada saat hujan deras dan angin kencang. Sehingga tidak sampai jatuh korban jiwa maupun korban luka. Karena saat ini, hujan deras juga masih terus mengguyur Karanganyar hampir setiap hari,” paparnya.

sumber: solo pos .co .id

Puncak Merbabu diprediksi terjadi badai

Koordinator Polisi Hutan (Polhut) Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) Eko Novi memprediksi puncak Gunung Merbabu akan terjadi pada malam 1 Sura, Rabu (9/1) ini. Pihaknya mengimbau para pendaki mewaspadai kondisi tersebut.
Prediksi ini berdasarkan cuaca saat ini yang tidak menentu. ”Kami mengimbau para pendaki untuk mewaspadai kondisi tersebut, karena bisa memicu terjadinya bencana atau yang lain,” ujarnya kepada Espos, Selasa (8/1).

Ditambahkannya, dalam pengamanan malam 1 Sura, pihaknya telah menyiapkan pengamanan di empat pos, masing-masing pos Selo, Tekelan, Cuntel dan Wekas. Eko menyatakan para pendaki itu diperkirakan akan menggelar ritual di sejumlah kawasan di puncak Merbabu, di antaranya di kawah puncak Merbabu, Watu Gubuk, Kenteng Songo dan Puncak Syarif.
Terpisah, Tim SAR Boyolali menyiagakan 35 orang anggota untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana saat pendakian pada malam 1 Sura. Komandan tim SAR Boyolali Yoyok Kurniawan FP menjelaskan seluruh anggota yang disiagakan itu akan melakukan pengamanan di enam titik lokasi rawan di jalur pendakian Gunung Merapi dan dua titik di jalur pendakian Merbabu.

”Keenam titik itu antara lain Puncak Garuda, Pasar Bubrah, Nglondon, Pos II dan Pertigaan Kartini. Sedang, untuk jalur Merbabu disiagakan di Puncak Syarif dan Ngagrong, Ampel,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (8/1).
Ditambahkannya, diperkirakan jumlah pendaki pada Malam 1 Sura mencapai sekitar 1.000 orang. Pihaknya mengimbau para pendaki untuk tetap waspada, terutama di titik-titik rawan di kawasan Merbabu dan Merapi. Titik-titik rawan, itu dikarenakan akan berpotensi terjadinya longsor dan bahaya lainnya, meski saat ini kondisi Merapi pada status aman.
Yoyok menambahkan untuk jalur pendakian Merbabu, pihaknya juga meminta agar pendaki mewaspadai jalur yang akan dilewati, terutama di jalur Ngagrong, karena banyaknya jalan simpang yang dikhawatirkan bisa menyesatkan para pendaki.

sumber: solo pos .co .id

Ribuan ayam tak selamat dari puting beliung

barangkali tak menyangka kalau mendung yang kelam siang itu merupakan awal petaka baginya. Pria yang tinggal di Salem, Saren, Kalijambe itu menuturkan, sebelum puting beliung menerjang wilayah Kalijambe dan sekitarnya, Senin (7/1), cuaca siang itu memang mendung. Setelah itu hujan deras mengguyur dan disertai puting beliung yang menghancurkan kandang ayamnya.

”Angin itu datangnya dari arah barat daya menuju ke timur laut. Selain mendung, hujan yang lebat membuat saya tidak melihat sesuatu yang berjarak kurang dari lima meter,” ungkapnya saat ditemui Espos, Selasa (8/1), di sela-sela membersihkan kandang ayam yang sudah rata dengan tanah itu.
Sekalipun dia tidak dapat melihat apa-apa akibat hujan yang deras, namun dia tetap berusaha lari menghindari terpaan angin dan reruntuhan kandang. Malang baginya, saat dia berusaha berlari ke luar kandang, dua buah genting dan satu kayu usuk sempat mengenai kepalanya. ”Tidak semua tempat dilalui angin yang memutar-mutar itu. Kebetulan kandang ayam ini salah satu titik yang dilalui, makanya kondisi kandang ini hancur total.”
Dia mengatakan meski sempat terkena pecahan genteng dan kayu usuk, namun kejadian tersebut tidak dirasakan lagi. ”Beruntung, saya masih dapat selamat. Tapi, kalau saya tidak cepat-cepat keluar dari kandang, pasti ceritanya bakal lain. Saat itu pun saya tidak mengetahui di mana posisi teman saya Pardi, yang kebetulan menjaga kandang juga. Tapi setelah hujan agak reda saya dapat menemukan Pardi dalam keadaan selamat,” kata dia.
Sehari setelah puting beliung dirinya hanya mendapatkan tugas dari pemilik kandang, Yono, warga Kaloran, Gemolong. Sembari, untuk membersihkan puing-puing reruntuhan. Tak hanya itu, Pamin juga berusaha mencari ayam yang barangkali masih bisa diselamatkan. Saat pembersihan kandang, dirinya tidak sendirian, puluhan teman-temannya juga berusaha untuk membantunya.
”Jumlah ayam yang ada mencapai 4.000 ekor. Mengenai jumlah kerugian, saya tidak mengetahui secara pasti, hanya saja menurut informasi mencapai Rp 100 juta lebih. Selain kandang rusak dan ayam mati, sarana dan prasarana misalnya ember, tempat minum, dan lain sebagainya juga ludes,” paparnya.

Lebih lanjut dia menuturkan hanya 150 ekor ayam yang dapat diselamatkan. ”Untuk ayam yang bisa diselamatkan kondisinya juga parah. Makanya, untuk membangun tempat ini seperti semula, kemungkinan besar harus dari nol lagi,” ulas dia.

sumber: solo pos .co .id

Korban bencana Wonogiri diminta bersedia direlokasi

Pemkab Wonogiri berencana merelokasi warga yang menempati lahan yang rawan bencana. Namun relokasi tidak akan dilakukan sebelum warga korban bencana menyadari pentingnya relokasi.
Untuk itu, Bupati meminta tokoh masyarakat di daerah bencana memberikan penyadaran tentang pentingnya relokasi kepada korban bencana alam. Saat ditemui Espos, Selasa (8/1), Bupati Begug Poernomosidi mengatakan transmigrasi merupakan pilihan terakhir jika tidak ada lagi lahan yang akan dijadikan relokasi warga. Bupati mengaku tidak rela dan tidak ikhlas jika warga Wonogiri yang ikut transmigrasi hanya menjadi kere (miskin). ”Perlu ada pembekalan bagi warga yang ikut transmigrasi. Transmigrasi itu pilihan terakhir.”
Bupati menegaskan prinsip lahan relokasi adalah warga korban bencana tidak lagi terisolasi, lingkungan aman dan tidak berbahaya serta tidak jauh dari perkotaan.
”Pemkab masih melakukan pendataan, berapa jumlah warga yang harus direlokasi. Pemkab juga belum berani menentukan lokasi relokasi karena belum mendapatkan jumlah pasti. Jika sedikit, maka ditempatkan tidak jauh dari daerah asal. Tetapi kalau banyak, dijadikan satu.”
Bupati menegaskan lokasi awal sudah tidak lagi nyaman dijadikan permukiman. ”Kami minta tokoh masyarakat mendekati warga dan berbicara dari hati ke hati. Karena sangat tidak mungkin warga kembali ke lokasi bekas bencana. Banyak lahan yang disiapkan, tetapi semua menunggu data pasti.”

Bersedia

Terpisah, Camat Sidoharjo, Supardi SH, mengatakan sebanyak 12 rumah hanyut ditelan banjir 26 Desember lalu. Rumah-rumah itu tersebar di empat dusun. Yakni Dusun Nawangan, Pengkol dan Bulak, Desa Sembukerep dan satu rumah di Dusun Banjaran, Desa Tempursari.
Sementara beberapa warga Dusun Pagan, Hargantoro, Tirtomoyo mengaku bersedia direlokasi asalkan lokasinya tidak jauh dari rumah awal. Sebelumnya, Kades Sendangmulyo, Darto mengatakan belum memikirkan soal relokasi. ”Kami masih konsentrasi kepada pencarian korban. Setelah semua selesai, baru berpikir ke masalah relokasi. Tetapi kalau relokasi menggunakan lahan milik desa sudah tidak ada.”
sumber: solo pos .co .id

Sebagian korban bencana keberatan direlokasi

Sebagian warga yang tinggal di daerah rawan bencana alam masih enggan untuk direlokasi ke tempat lain yang lebih aman.
Kendati saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar telah menyediakan tempat bagi korban tanah longsor di Perumahan Jeruksawit, Gondangrejo, namun mereka tetap berat hati untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka. Seperti diungkapkan Giyo Sugiarso, 42, salah satu korban selamat bencana tanah longsor di Desa Ledoksari, Tawangmangu. Kendati merasa waswas akan ancaman longsor susulan, namun bapak tiga anak ini merasa sangat berat jika ia dan keluarganya harus pindah ke tempat lain. Apalagi, jika tempat itu masih asing baginya.
”Kalau dibilang takut, ya rasa takut itu tetap ada. Tapi, kalau disuruh pindah ke tempat lain, bagaimana ya? Saya kok masih belum sreg,” ungkapnya saat ditemui Espos di lokasi longsor, pekan lalu.
Menurut warga Ledoksari RT 03/RW XII ini, tanah kelahirannya tersebut sudah memberikan penghidupan bagi warga setempat. Banyak warga yang menggantungkan hidupnya serta bermata pencaharian di tanah tersebut. Meski beberapa hari lalu terjadi longsor dan memakan korban nyawa, bukan berarti warga langsung mau direlokasi ke tempat lain.
”Niat pemerintah itu memang baik. Tapi ini adalah tanah leluhur kami. Kalau diminta meninggalkan daerah ini, saya masih berat,” tambahnya.
Sementara itu Sutaryo, Ketua RW VII Nigasan, Kecamatan Karangpandan, menyatakan bencana tanah ambles di daerah tersebut telah merusakkan infrastruktur bangunan dan jalan perkampungan. Sebagian warga juga terpaksa mengungsi ke tempat lain karena rumah mereka rusak.
Menumpang
”Saya kurang tahu apakah warga mau dipindah ke tempat lain, meski daerah sini sudah berbahaya untuk ditempati. Setahu saya, warga lebih memilih untuk menumpang di rumah-rumah famili yang masih dekat-dekat sini,” ujarnya.
Sedangkan Sarno, 35, warga Dusun Karanganyar RT 06, Desa Seloromo, Kecamatan Jenawi, mengaku enggan untuk pindah jauh-jauh dari desanya. Kalau harus mengungsi, dia lebih memilih untuk mengungsi di Balaidesa Seloromo atau menumpang di rumah saudaranya.
”Dengar-dengar, pemerintah memang mau memindahkan warga sini ke tempat lain. Tapi, kalau jauh-jauh, gimana ya? Saya masih bingung harus bagaimana. Tempatnya saya juga pernah tahu. Kalau boleh memilih, apa tidak lebih baik di dekat-dekat sini saja. Saya juga masih punya saudara di dekat sini,” kata dia.

Pada kesempatan sebelumnya, Bupati Karanganyar, Rina Iriani, menyatakan ada empat kecamatan yang sebagian warganya harus direlokasi, yakni Kecamatan Tawangmangu, Jatiyoso, Karangpandan dan Jenawi. Sebagian warga di empat wilayah kecamatan tersebut perlu direlokasi lantaran daerah tempat tinggal mereka sudah tidak memungkinkan lagi dihuni. ”Pemkab menyiapkan 350 unit rumah di Jeruksawit, Gondangrejo, untuk tempat relokasi. Tetapi kendalanya, warga memang lebih memilih tinggal di tempat asal mereka,” ungkapnya.
Ditambahkan Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi (KIK) Karanganyar, Iskandar, relokasi korban tanah longsor ke Perumahan Jeruksawit memanfaatkan program perumahan bersubsidi yang disediakan oleh Kementrian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera).

sumber: solo pos .co .id

Korban Banjir di Solo Kesulitan Air Bersih



Warga korban banjir di Solo, Jawa Tengah mengalami kesulitan air bersih. Pasalnya, pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) macet menyusul rusaknya instalasi pengolahan air akibat diterjang banjir dari Bengawan Solo.

Dari pantauan SCTV, Ahad (6/1), guna memenuhi kebutuhan sehari-hari warga hanya mengandalkan bantuan air dari PDAM yang dikirim melalui truk tangki. Warga tidak berani menggunakan air dari sumur atau sumber air lain untuk memasak dan minum karena kotor dan tercemar sampah.

Banjir juga masih menggenangi jalur pantai utara di Semarang, Jawa Tengah. Akibatnya, banyak mobil kecil dan sepeda motor tidak berani melintas karena takut mogok. Kondisi terparah terjadi di Jalan Kaligawe, Raden Patah, dan Empu Tantular.

Sementara itu, genangan banjir di Bojonegoro, Jawa Timur mulai surut. Menurut laporan reporter SCTV Boy Bakamoro, genangan air kini mencapai setinggi lutut. Meski begitu, masih banyak warga yang mengungsi, salah satunya di kompleks Masjid At-Taqwa di Jalan Teuku Umar. Kondisi para pengungsi di tempat ini cukup baik karena bantuan makanan sangat memadai. Namun, ada beberapa warga yang mulai terserang penyakit, seperi diare dan gangguan saluran pernapasan.

Di tempat lain, pihak Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Bojonegoro mulai berbenah pascabanjir. Ini karena sekolah akan dipakai ujian akhir semester. Tapi, Dinas Pendidikan setempat akan mengundurkan jadwal ujian jika keadaan tak memungkinkan.

sumber: liputan 6 .com

Hujan Deras Disertai Angin Ribut Melanda Solo



Hujan deras disertai angin kencang melanda Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (7/1) petang. Meski hanya berlangsung selama satu jam, sejumlah pohon besar di tepi jalan utama Kota Solo bertumbangan dan menutup ruas jalan sehingga memacetkan lalu lintas. Guna menghindari penumpukan, semua jenis kendaraan dialihkan melalui jalur lambat.

Hujan deras disertai angin kencang juga membuat warga Solo panik karena khawatir hujan akan menyebabkan banjir. Apalagi, sejumlah tanggul dan penahan sungai yang rusak akibat luapan Sungai Bengawan Solo beberapa waktu silam, sampai saat ini belum diperbaiki.

Sementara hujan deras disertai angin kencang di Cirebon, Jawa Barat, mengakibatkan satu papan reklame mbruk. Papan reklame tersebut menimpa warung dan satu unit mobil yang tengah parkir di pinggir jalan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Selain papan reklame, sejumlah pohon besar yang berada di tepi jalan juga tumbang. Pohon yang tumbang menghalangi jalan dan membuat kemacetan.

sumber: liputan 6 .com

Puting beliung kembali terjang Soloraya

Puting beliung kembali menerjang sejumlah daerah di Soloraya, Senin (7/1) siang. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun beberapa rumah warga mengalami kerusakan dan kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Di Kabupaten Sragen, dua rumah dan satu kandang ayam roboh sementara belasan rumah lainnya rusak. Di Wonogiri, satu rumah warga di Gumiwang Lor, Wuryantoro roboh, sementara di Karanganyar, tiga rumah di Desa Dayu, Gondangrejo, dilaporkan mengalami kerusakan parah.

Puting beliung tersebut terjadi sekitar pukul 13.30 WIB saat hujan deras melanda sejumlah kawasan di Soloraya. Salah seorang warga Girimargo, Miri, Sragen, Sumarni, 30, menuturkan angin kencang yang berputar dari arah selatan menuju utara dan menyebabkan dua pohon jati miliknya tumbang dan mengenai atap rumah. Akibatnya, beberapa genteng pecah. ”Saat angin kencang terjadi sebenarnya hujan belum deras. Tapi setelah pohon jati tumbang lalu diikuti oleh hujan yang cukup lebat,” jelasnya saat ditemui Espos di kediamannya, kemarin sore. Dia menuturkan setelah hujan reda warga kemudian bergotong-royong memperbaiki rumahnya yang rusak.

Warga Candirejo, Kwangen, Gemolong, Setu Karyanto, 40, menambahkan banyak genteng rumah beterbangan akibat terjangan puting beliung itu. ”Anginnya itu mutar-mutar bersamaan hujan deras. Saat angin tersebut datang sangat kelihatan sekali pusarannya.”
Kepala Pelaksana Harian Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) yang juga Kepala Kantor Kesbangpol dan Linmas Sragen, Wangsit Sukono, menyatakan rumah rusak parah milik Edy Purwanto, warga Kategan, Kelurahan Gemolong, Gemolong, serta Surip, 45, warga RT 16 Dukuh Sumberejo, Gebang, Masaran. Rumah milik Edy Purwanto ambruk karena tertimpa pohon nangka, sedangkan bagian rumah milik Surip tepatnya bagian dapur ambruk karena tertimpa pohon jati. ”Beruntung, saat hujan deras mengguyur dan mulai muncul angin kencang, korban bersama anggota keluarga mereka segera keluar rumah,” kata Wangsit ketika dikonfirmasi Espos, Senin.

Selain melanda Gemolong dan Masaran, puting beliung juga menerjang daerah Miri, Kalijambe dan Sukodono. Wangsit menambahkan sebuah kandang ayam milik Sumarno S, 45, warga Kwangen, porak-poranda. Sekitar 4.000 ekor ayam yang sedang berada di dalam kandang dilaporkan mati tertimpa bagian bangunan kandang. Sedangkan puting beliung yang menerjang Miri hanya mengakibatkan sejumlah rumah rusak sedang dan ringan. Sementara di Sukodono, satu rumah di Desa Juwok dilaporkan roboh dan di Desa Gebang sebuah tower juga roboh.
Guna meringankan derita korban puting beliung, Pemkab Sragen telah menyerahkan bantuan uang senilai Rp 1,5 juta untuk Edy Purwanto warga Gemolong dan Surip warga Gebang, Masaran. Sedangkan untuk korban angin kencang di Kwangen, Kalijambe, Sumarno, Pemkab sedang menginventarisasi tingkat kerugiannya.
Sementara itu Camat Gondangrejo, Karanganyar, Joko Budi Utomo, ketika dihubungi menyatakan sebanyak tiga rumah di Desa Dayu mengalami kerusakan. ”Kerusakan ditaksir sekitar Rp 50 juta. Para korban sementara mengungsi di rumah tetangga atau saudara,” ujar Joko.

Angin kencang juga menyebabkan sejumlah pohon turus di Tasikmadu, Karanganyar, tumbang. Berdasarkan pantauan Espos, sejumlah pohon tumbang di jalan belakang kompleks Pabrik Gula (PG) Tasikmadu hingga pertigaan Beji. Ukuran pohon yang tumbang bervariasi, namun kebanyakan adalah pohon berukuran kecil dan sedang. Sebagian di antaranya jatuh menutup jalan. Oleh warga setempat, pohon tersebut segera dipotong dan disingkirkan ke pinggir jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Sedangkan di Wonogiri, sebuah rumah milik Samikem, warga RT 01/II, Ngasem, Gumiwang Lor, Wuryantoro juga roboh akibat terjangan puting beliung. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun korban sementara ini menginap di rumah familinya.
Adanya bencana itu, langsung direspons oleh PMI Cabang Wonogiri dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP Wonogiri. Kedua lembaga itu langsung menurunkan personel dan memberikan bantuan Sembako dan uang tunai.
Bantuan Baguna PDIP diserahkan oleh Ketua DPC PDIP Wonogiri, Wawan Setya Nugraha, berupa paket Sembako dan uang senilai Rp 1 juta. Sedangkan bantuan dari PMI Cabang Wonogiri berupa paket kebersihan, beras satu karung, mi instan, kecap, gula serta terpal.
Salah seorang warga yang datang ke lokasi bencana, Daryono, menceritakan rumah tersebut dihuni oleh tiga orang. ”Saat kejadian, pemilik rumah, Samikem, sedang ke ladang menunggui tanaman agar tidak diserang kawanan kera, sedangkan anak-anaknya juga pergi,” jelas Daryono.
Lebih lanjut Daryono menceritakan saat itu angin dari arah barat atau tegalan berputar-putar. ”Sesampai di lokasi kejadian, angin itu menghantam pohon petai kemudian tumbang. Pohon petai itu menimpa rumah Samikem sehingga roboh. Saat pulang, Samikem mendapati rumahnya hancur.”

sumber: solo pos .co .id

Tak bisa bantu materi, mahasiswa resik-resik rumah warga

Sambil tertawa-tawa dan bersenda gurau, sejumlah mahasiswa, Minggu (6/1) siang itu, berbaris di depan rumah Sudiro Hadi Siswoyo, salah seorang korban banjir di RT 02/VI Kelurahan Pucangsawit, Jebres secara estafet memberikan ember berisi air ke rekan di sebelahnya.
Orang yang berada di ujung barisan paling dekat dengan rumah tersebut kemudian menyiramkan air itu ke lantai rumah yang dipenuhi lumpur sisa banjir sementara orang yang berada di dalam rumah menggosok dan menyapu lantai rumah tersebut untuk membuang lumpurnya hingga bersih.
Tanpa memedulikan pakaian dan tubuh mereka yang basah dan belepotan lumpur, mereka terus bekerja dengan penuh semangat. Sehingga saat tengah hari, lumpur yang semula setinggi paha orang dewasa, akhirnya berhasil dibersihkan. Kepuasan dan kegembiraan tampak di wajah mereka.

Salah seorang mahasiswa, Arif mengatakan ia dan teman-temannya datang jauh-jauh dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, memang khusus untuk membantu warga korban banjir membersihkan rumahnya. ”Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak beberapa hari lalu. Tapi kami melakukannya bergantian dengan mahasiswa lain karena kami sedang ujian semester,” jelas Arif, saat ditemui Espos di sela-sela kegiatan.
Arif mengatakan sebelumnya teman-temannya yang tergabung dalam kelompok lain juga sudah membantu warga di wilayah banjir Kelurahan Sangkrah, Sewu dan Jurnasan, Pucangsawit. Setelah ini, kata dia, kelompoknya akan kembali ke Salatiga dan tugas bantu-bantu membersihkan rumah korban banjir akan dilanjutkan oleh kelompok lain.
Mahasiswa lain, Khusni Mubarok menambahkan setiap kali ada bencana, dimulai dari bencana tsunami di Aceh akhir 2004 lalu, ia dan teman-temannya secara sukarela membantu dengan tenaga. ”Mungkin kami memang tidak bisa banyak membantu dalam hal materi, lagi pula sudah banyak pihak yang melakukannya. Selain itu setelah bencana berlalu, kami pikir, bantuan tenaga lebih dibutuhkan,” ungkap Khusni.

Sementara itu, dikatakan mahasiswa lain, Heru, membantu dengan menyumbangkan tenaga lebih memuaskan dan terasa hasilnya. Juga lebih tepat pada sasaran yang membutuhkan.
Sementara itu, Sudiro, warga yang rumahnya dibantu oleh para mahasiswa tersebut mengatakan sangat senang dan bangga melihat anak-anak muda yang dengan penuh semangat dan tanpa pamrih menolong orang yang kesulitan.

sumber: solo pos .co .id

HPPK beri bantuan korban banjir

Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) memberikan bantuan untuk korban banjir, Senin (7/1). Ketua panitia penyaluran bantuan, H Tory S menerangkan, dengan disalurkannya bantuan, HPPK tercatat sudah dua kali memberikan bantuan.

”Tahap pertama diberikan pada saat terjadinya banjir awal, Rabu (26/12) yang berupa 300 bungkus nasi. Untuk bantuan yang tahap dua, kami memberikan bantuan berupa uang tunai kepada Solo Peduli bencana banjir senilai Rp 1 juta, kompor 45 buah, tujuh pasang sepatu, Sembako dan bantuan-bantuan yang lain,” terangnya saat ditemui Espos, Senin (7/1). Total dana untuk bencana banjir, sambung Tory, senilai Rp 19.120.000

sumber: solo pos .co .id